Selasa, 18 Desember 2012

Perkembangan Moral dan Agama Peserta Didik

Tugas perkembangan ini berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan, yang berkewajiban untuk beribadah. Ibadah ini misinya adalah untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan atau kenyamanan, baik di dunia maupun di akhirat. Perkembangan moral, keimanan dan ketakwaan ini merupakan tugas perkembangan yang penanamannya dimulai sejak usia dini. Pada usia remaja, nilai-nilai moral, agama, dan karakter  harus sudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.  


D.B. Larson,dalam penelitiannya “religious Commitment and health  yang dikutip Dadang Hawari menyatakan, bahwa agama (keimanan) amat penting dalam pencegahan agar seseorang tidak mudah “jatuh sakit”, dan meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengatasi penderitaan. Agama juga dapat berperan sebagai pelindung.

Pada hakekatnya ada kebutuhan dasar kerohanian (basic spiritual needs) pada manusia. Setiap orang membutuhkan rasa aman, tentram, terlindung (security feeling), bebas dari rasa cemas, ketakutan, stress, depresi dan sebagainya. Bagi mereka yang beragama kebutuhan ini dapat diperoleh lewat agama, sedang bagi mereka yang sekuler dan mengingkarinya, menempuh lewat perilaku menyimpang. Untuk itu pendidik, dihimbau agar tidak hanya mengajarkan ritual keagamaan saja, tapi makna didalam ritual tersebut juga disampaikan.

Dalam rangka membantu remaja  dalam mengokohkan atau memantapkan moral dan agama, maka sekolah dapat melakukan upaya-upaya sebagai berikut:
  1. Personil sekolah sama-sama mempunyai kepedulian terhadap program pendidikan atau penanaman nilai-nilai moral dan agama, baik melalui proses belajar mengajar, bimbingan, pemberian dorongan, dan contoh/teladan baik dalam bertutur kata, berperilaku, perpakaian, maupun melaksanakan ibadah, dan pembiasaan mengamalkan nilai-nilai moral dan agama.
  2. Guru agama selayaknya memiliki kepribadian yang mantap, pemahaman dan keterampilan professional, serta kemampuan dalam mengemas materi pembelajaran, sehingga mata pelajaran agama menjadi menarik dan bermakna bagi peserta didik.
  3. Guru menyisipkan nilai moral dan agama kedalam mata pelajaran, sehingga peserta didik memiliki apresiasi yang positif terhadap nilai-nilai moral dan agama.
  4. Sekolah menyediakan sarana ibadah sebagai laboratorium rohaniah yang cukup memadai, serta memfungsikannya secara maksimal.
  5. Menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler kerohanian.